Serang, Nodeal.id
Rahmatullah, salah satu konsumen FIF di Bungur Indah Jalan Trip Jamaksari No. 1 Sumur Pecung, FIF cabang Cinanggung, Kota Serang, merasa sangat kecewa atas peristiwa yang menimpanya.
Motor roda dua miliknya yang menunggak di tarik secara paksa dengan di stop saat di perjalanan oleh pihak ketiga (debt collector) yang mengaku dari pihak FIF. Kamis (12/3/26).
Pada 9 Maret Senin Rahmatullah datang ke kantor FIF untuk membayar angsuran 3 bulan sebesar Rp. 1.600.000.x 3 = 4.800.000. Walaupun bersusah payah mendapatkan uangnya namun Rahmatullah tetap penuhi kewajibannya Sebagai konsumen FIF.
Dengan harapan motor segera diproses dan diambil kembali. Ungkapnya, namun kekecewaan kembali terjadi saat Rahmatullah diminta biaya tambahan sebesar RP3.132.000 dengan rincian ;Denda + Call fee Rp.1.632.000Biaya Tarik Rp 1.500.000Walaupun angsuran selama 3 bulan akan di dibayarkan sebesar Rp 4.800.000, namun tetap belum bisa menyelesaikan persoalan tersebut, dikarenakan harus disertai biaya tambahan.
Lanjutnya, saya merasa kecewa dan sedih, karena saya lagi kesulitan ekonomi dan tetap semangat dan berusaha untuk penuhi kewajiban, tapi kenyataannya belum bisa menyelesaikan pengambilan motor yang ditarik secara paksa.
Saya berharap klo memang ada beban biaya jangan dibebankan saat ini. Ujar Rahmatullah.
Tambahnya, angsuran yang belum dibayar sebanyak 6 bulan, dan akan dibayarkan selama 3 bulan. Otomatis sisa angsuran tinggal 3 bulan lagi, red.
Hal ini membuat kecewa dengan pelayanan pihak dari PT. FIF Grup yang begitu kurang bijaksana dalam menyelesaikan persoalan bagi konsumen.
Berdasarkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dalam aturannya melarang keras perusahaan leasing (perusahaan pembiayaan) melibatkan debt colector melakukan penarikan paksa yang dianggap bertentangan dengan prinsip perlindungan konsumen.
Penarikan harus disertai sertifikat fidusia, surat peringatan (SP), dan kartu sertifikasi profesi dari APPI (Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia).
Yang mana seharusnya pihak PT FIF Grup bisa memudahkan segala sesuatu demi kepercayaan publik. Tapi nyatanya malah mempersulit dan terlalu membebankan konsumen, tutupnya. [Red]
