SERANG,- Program Demfarm Intensifikasi Jagung APBD Provinsi Banten Tahun Anggaran 2026 menunjukkan hasil menggembirakan.

Panen perdana jagung hibrida yang dilaksanakan di lahan Kelompok Tani Panca Pusaka, Desa Tamansari, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, mencatat produktivitas rata rata mencapai 7,7 ton pipil kering per hektare, meningkat sekitar 1,7 ton per hektare dibandingkan hasil budidaya sebelumnya yang berkisar 6 ton per hektare.

Keberhasilan tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian panen Program Demfarm Intensifikasi Jagung Tahun 2026 di Provinsi Banten sekaligus membuktikan efektivitas penerapan teknologi budidaya jagung modern yang didukung bantuan sarana produksi lengkap dari Pemerintah Provinsi Banten.

Pada lokasi demfarm Baros, realisasi tanam telah mencapai 4 hektare dari target 5 hektare, dengan panen tahap pertama seluas 1,5 hektare.

Plt. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Nasir mengatakan, hasil panen di Kecamatan Baros memberikan optimisme terhadap keberhasilan program pengembangan jagung yang menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian daerah.

“Panen perdana di Kelompok Tani Panca Pusaka menjadi awal yang sangat baik bagi pelaksanaan Demfarm Intensifikasi Jagung APBD Tahun 2026. Produktivitas yang mencapai rata-rata 7,7 ton pipil kering per hektare membuktikan bahwa penggunaan benih unggul, penerapan teknologi budidaya yang tepat, pemupukan berimbang, serta pendampingan penyuluh mampu meningkatkan hasil panen petani secara nyata,” ujar Nasir.

Menurutnya, program demfarm bukan sekadar memberikan bantuan kepada kelompok tani, tetapi juga menjadi media pembelajaran agar teknologi budidaya jagung modern dapat diterapkan lebih luas oleh petani di berbagai daerah.

“Demfarm merupakan etalase teknologi pertanian. Kami ingin menunjukkan kepada petani bahwa budidaya jagung yang dilakukan sesuai rekomendasi teknis mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi. Harapannya teknologi ini dapat direplikasi secara mandiri sehingga peningkatan produksi jagung terjadi di seluruh kawasan sentra jagung di Banten,” katanya.

Paket Bantuan Lengkap Tingkatkan Produktivitas

Program Demfarm Intensifikasi Jagung merupakan bagian dari Program Penyediaan dan Pengembangan Sarana Pertanian melalui Sub Kegiatan Pengawasan Mutu dan Peredaran Benih Tanaman Pangan APBD Tahun Anggaran 2026.

Melalui program tersebut, Pemerintah Provinsi Banten memberikan bantuan paket sarana produksi lengkap atau full package kepada setiap kelompok tani penerima manfaat.

Paket bantuan meliputi benih jagung hibrida varietas NK 212, pupuk NPK, pupuk hayati cair (PHC), pupuk hayati majemuk (PHM), hingga herbisida.

Selain bantuan sarana produksi, petani juga mendapatkan pendampingan intensif dari penyuluh pertanian mulai dari penentuan calon petani dan calon lokasi (CPCL), pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga panen.

Pendekatan tersebut menjadi faktor utama meningkatnya produktivitas jagung di lokasi demfarm.

Dilaksanakan di 10 Kelompok Tani

Pada Tahun Anggaran 2026, Program Demfarm Intensifikasi Jagung dilaksanakan pada 10 kelompok tani dengan total luas areal mencapai 50 hektare yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Banten.

Panen di Kecamatan Baros menjadi lokasi pertama yang memasuki masa panen.

Selanjutnya, panen akan berlangsung secara bertahap sesuai umur tanaman di masing-masing lokasi.

Nasir menegaskan panen di Baros hanyalah awal dari rangkaian panen demfarm tahun ini.

“Panen di Baros menjadi kick off panen Demfarm Intensifikasi Jagung Provinsi Banten Tahun 2026. Dalam beberapa minggu ke depan, kelompok tani di lokasi lain akan memasuki masa panen sesuai umur tanaman masing-masing.

Kami optimistis hasilnya juga baik karena seluruh kelompok memperoleh paket bantuan lengkap serta pendampingan teknis selama proses budidaya,” ujarnya.

Perkuat Ketahanan Pangan dan Industri Pakan

Pengembangan jagung menjadi salah satu fokus Pemerintah Provinsi Banten karena komoditas ini memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku utama industri pakan ternak yang kebutuhannya terus meningkat setiap tahun.

Melalui peningkatan produktivitas jagung lokal, pemerintah berharap ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan mendukung pertumbuhan industri peternakan.

Dinas Pertanian Provinsi Banten juga akan terus melakukan monitoring, evaluasi, dan pendampingan di seluruh lokasi demfarm sebagai bahan penyusunan kebijakan pengembangan jagung pada tahun-tahun mendatang.

Keberhasilan panen perdana di Kecamatan Baros diharapkan menjadi motivasi bagi kelompok tani lainnya untuk menerapkan budidaya jagung hibrida secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat posisi Banten sebagai salah satu daerah penghasil jagung di Indonesia.(Adv)