Banten, Nodeal.id
— Saluran Induk Bendungan Pamarayan Barat (BPB) mengairi area persawahan di Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Cilegon. Luas area persawahan yang dilayani oleh jaringan Induk BPB kurang lebih 9.287 hektare, dengan panjang saluran induk sekitar 46.690 meter, dilengkapi 18 bangunan pembagi dan 25 bangunan sadap.
Berdasarkan pantauan media ini, sejumlah bangunan pasangan batu mengalami kerusakan akibat faktor usia. Selain itu, beberapa bagian pasangan beton juga mengalami kerusakan dan penurunan, sehingga diperlukan penanganan dan revitalisasi secara bertahap untuk menjaga fungsi jaringan irigasi serta mendukung pemenuhan kebutuhan air bagi sektor pertanian.
Menurut H. Hudri, salah satu anggota Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Kasemen, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah melaksanakan revitalisasi Saluran Induk BPB pada tahun 2017. Namun, revitalisasi tersebut belum mencakup seluruh jaringan.
Pekerjaan saat itu baru sampai di Kecamatan Kragilan, sedangkan ruas dari Kragilan hingga Cilegon masih memerlukan penanganan lanjutan, ungkapnya saat ditemui di kediamannya di Terumbu (20/10).
Dalam rangka mendukung swasembada pangan, H. Hudri berharap Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3) dapat melanjutkan revitalisasi Saluran Induk BPB beserta saluran pembagi dan sadapnya. Menurutnya, sejumlah bagian saluran saat ini memerlukan penanganan karena mengalami kerusakan dan longsor.
Ia juga mengaitkan harapan tersebut dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi, serta Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi untuk Mendukung Swasembada Pangan yang ditetapkan pada 30 Januari 2025.
Lebih lanjut, H. Hudri menyampaikan bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, yang ditetapkan pada 14 Agustus 2024, mengatur berbagai aspek pengelolaan sumber daya air, termasuk prioritas pemenuhan kebutuhan air dan pengelolaan jaringan irigasi. Menurutnya, kerusakan tidak hanya terjadi pada saluran induk BPB, tetapi juga pada sejumlah saluran sekunder dan saluran sadap.

Ia berharap penanganan dan revitalisasi jaringan irigasi BPB dapat dilakukan secara berkelanjutan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh petani pengguna air, tidak hanya di wilayah Kasemen, tetapi juga di wilayah layanan lainnya.
Terpisah, Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (PPK OP SDA) BBWS Cidanau Ciujung Cidurian, Ricky Jefri, saat ditemui di ruang kerjanya, menjelaskan bahwa BBWS C3 terus melaksanakan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi melalui kegiatan rutin.
Kegiatan tersebut meliputi pembabatan rumput, pelumasan, serta pengecatan pintu air. Sementara itu, untuk pemeliharaan berkala, pelaksanaannya masih disesuaikan dengan ketersediaan anggaran dan tingkat prioritas penanganan, ungkapnya (21/10).
Ricky menambahkan bahwa saat ini pemeliharaan berkala difokuskan pada penanganan bagian jaringan irigasi yang memerlukan penanganan darurat terutama untuk menangani kekeringan. Beberapa kegiatan yang dilaksanakan antara lain penanganan pasangan pada saluran Sekunder Bayongbong sepanjang 120 meter melalui metode pasangan setempat, penanganan pada Sekunder Bogawati, serta pengangkatan gulma dan sedimentasi di Sekunder Begog.
Ia berharap ke depan pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi, baik Saluran Induk BPB maupun saluran sekundernya, dapat terus berlanjut sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran. Adapun kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi rencananya dilaksanakan melalui PPK PJPA sesuai dengan tugas dan kewenangannya, pungkasnya. (Yan/red)
